Interaksi anda begitu berarti disini. Mohon tinggalkan satu atau dua kata yang bermanfaat untuk anda, saya dan kita semua

Sabtu, 30 Januari 2010

Pengembangan Teknologi "Beyonic" untuk kemajuan Pertanian

Beyonic dikenalkan sebagai singkatan dari beyond bio-organic. dimana beyonic  merupakan teknologi berbasis mikroba untuk menjadikan pupuk organik tidak sekadar sebagai pupuk penyubur tanaman, tetapi menjadi pupuk yang bisa menjalankan misi lain, seperti pemulihan lahan bekas tambang yang sebelumnya tidak layak untuk di tanami_ tanaman  yang kini terserak mahaluas di Tanah Air.
Logam berat yang biasa terkandung pada lahan bekas tambang adalah ancaman mematikan bagi mahluk hidup. Logam berat tak hanya di lahan bekas tambang, tetapi bisa di mana-mana. saja tergantung struktur tanah nya.
Logam berat juga biasanya terlarut di dalam air. Dan terbawa  menuju permukaan tanah yang lebih rendah, lalu bermuara ke laut.Di dalam tanah, logam berat diserap tanaman. Kalau kebetulan itu tanaman pangan, sumber pangan itu berpotensi karsinogenik, menyebabkan penyakit kanker.
Penyakit Minamata mengingatkan kita pada kandungan logam berat merkuri (Hg) atau air raksa di dalam tubuh ikan. Begitu pula logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) juga sering ada pada udang tambak ekspor.

Saat ini beberapa seri produk pupuk organik yang telah dipasarkan diantaranya adalah BioPoska, Kompenit, Biomat, Biorhizin, Kedelai Plus, BioVam dan Katalek.
Seri lain yang akan segera menyusul adalah pupuk organik untuk tambak, kawasan tambang yang tercemar limbah logam berat, kawasan tercemar minyak, serta energi alternatif.
Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang mengembangkan tekhnologi Beyonic untuk kesuburan tanah.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara seperti yang di kutip Antara News, dalam pemaparan mengenai Beyonic mengatakan teknologi ini merupakan salah satu solusi atas masalah menurunnya kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan.

"Pemanfaatan mikroba yang merupakan salah satu kekayaan hayati kita menjadi alternatif yang harus terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan," kata Endang.

Ia mengatakan, Pemerintah pada tahun 2010 telah menganggarkan dana subsidi Rp11,86 triliun untuk memproduksi 11,76 juta ton pupuk organik. Namun subsidi tersebut hanya dimanfaatkan oleh produsen besar sehingga petani masih tetap tidak mandiri terkait penyediaan pupuk organik tersebut.

"LIPI ingin agar petani bisa mengolah sendiri pupuk organik dengan teknologi ini sehingga mereka menjadi mandiri," kata Endang.

Ia juga menjamin bahwa mikroba yang digunakan aman dan terjaga kemurniannya.
Semoga Ini menjadi solusi baik dalam memajukan sektor  Pertanian  & Peternakan.

Artikel Terkait



2 komentar:

Pujiantoro on Senin, Februari 01, 2010 mengatakan...

meski dah malem,dibelain mampir ni :D

Anak Brayan on Jumat, Desember 31, 2010 mengatakan...

terima kasih...

Posting Komentar

Komentar anda begitu berarti buat saya. Mohon tinggalkan satu atau dua kata yang bermanfaat untuk saya dan untuk kita semua.

 
Dasar Bisnis Online Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template